Rabu, 13 Maret 2013

Tugas Membaca Kompherensif; Reproduksi Buku Fonetik


I
PENDAHULUAN

Fonetik (phonetics) ialah ilmu yang menyelidiki bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa (langue) (cf. Malmberg, 1963: 1; Verfhaar, 1977: 12; Ramelan, 1982:3). Fonetik menyelidiki bunyi bahasa dari sudut pandang tuturan atau ujaran (parole) (Sudarjanto, 1974:1).

II
JENIS FONETIK

Menurut segi bunyi bahasa di selidiki, fonetik dibagi menjadi tiga jenis (cf. Bloch & George L. Trager, 1942: 11; Verhaar, 1977:12; Sommerstein, 1977:1) seperti dibawah ini:
1.      Fonetik Organis
Fonetik yang mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara yang ada dalam tubuh manusia menghasilkan bunyi bahasa.
2.      Fonetik Akustik
Fonetik yang mempelajari bunyi bahasa dari segi bunyi sebagaimana gejala fisis.
3.      Fonetik Auditoris
Fonetik yang mempelajari bagaimana mekanisme telinga menerima bunyi bahasa sebagai getaran udara.

III
TERJADINYA BUNYI

Udara dihisap ke dalam paru-paru dan dihembuskan keluar bersama-sama waktu sedang bernafas. Udara yang dihembuskan (atau dihisap untuk sebagian kecil bunyi bahasa) itu kemudian mendapatkan hambatan diberbagai tempat alat bicara dengan berbagai cara, sehingga terjadilah bunyi-bunyi bahasa.


IV
ALAT-ALAT BICARA

1. Paru-paru (lungs); 2. Batang Tenggorok (trachea); 3. Pangkal tenggorok (larynx); 4. Pita-pita suara (vocal cords); 5. Krikoid (cricoids); 6. Tiroid (thyroid); 7. Aritenoid (arythenoids); 8. Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx); 9. Epiglotis (epiglottis); 10. Akar lidah (root of the tongue); 11. Punggung lidah, lidah belakang, panggal lidah (hump, back of tongue, dorsum); 12. Tengah lidah (middle of tongue,medium); 13. Daun lidah (blade of the tongue,lamina); 14. Ujung lidah (tip of the tongue,apex); 15. Anak tekak (uvulc); 16. Langit-langit lunak (soft palate,velum); 17. Langit-langit keras (hard palate, palatum); 18. Gusi dalam, gusi belakang, ceruk gigi, lengkung kaki gigi, (alveola, alveolum); 19. Gigi atas (upper teeth,denta)
; 20. Gigi bawah (lower teeth, denta); 21. Bibir atas (upper lip,labia); 22. Bibir bawah (lower lip, labia); 23. Mulut (mouth); 24. Rongga mulut (oral cavity, mouth cavity); 25. Rongga hidung (nose cavity, nasal cavity).

V
FUNGSI DAN CARA KERJA ALAT BICARA
1.      Paru-paru
Fungsi pokok paru-paru adalah untuk pernafasan. Bernafas pada dasarnya ialah mengalirkan udara ke dalam paru-paru, proses ini disebut menarik nafas; dan mengeluarkan udara yang telah kotor keluar, proses ini disebut menghembuskan napas.
Selama manusia masih hidup, proses mengembang (pembesaran ruangan paru-paru) dan mengempis (pengecilan ruangan paru-paru)-nya paru-paru yang dikerjakan oleh otot-otot paru-paru, otot perut, dan rongga dada berjalan terus secara teratur. Arus udara yang dari paru-paru inilah yang menjadi sumber syarat mutlak terjadinya bunyi.

2.      Pangkal Tenggorok
Pangkal tenggorok atau larink adalah rongga pada ujung pernapasan. Rongga ini terdiri dari empat komponen yaitu : tulang rawan krikoid, dua tulang rawan aritenoid, sepasang pita suara, dan tulang rawan tiroid.
Sehubungan dengan terjadinya bunyi dan pernafasan maka glotis biasa dibedakan atas empat posisi yaitu dalam keadaan : terbuka lebar, terbuka, tertutup, dan tertutup rapat. Glotis terbuka lebar saat kita bernafas secara normal. Glotis dalam keadaan terbuka dalam menghasilkan bunyi tak bersuara; sedang dalam keadaan tertutup, sehingga memungkinkan arus udara yang mengalir menggetarkan pita suara, pada waktu menghasilkan bunyi bersuara. Proses menggetarnya pita suara itu sendiri disebut fonasi (phonation) .
3.      Rongga Kerongkongan
Rongga kerongkongan atau faring adalah rongga yang terletak diantara pangkal tenggorok dengan rongga mulut dan rongga hidung. Fungsi utamanya, sebagai saluran makanan dan minuman.
4.      Langit-langit Lunak
Langit-langit lunak (velum) beserta bagian ujungnya yang disebut anak tekak (uvula) dapat turun naik sedemikian rupa. Bunyi bahasa yang di hasilkan oleh langit-langit lunak ini disebut bunyi velar. Dalam pembentukan bunyi ia sebagai artikular pasif (dasar atau basis artikulasi), sedangkan artikulator (aktif)-nya adalah pangkal lidah. Gabungan keduannya menjadi dorso-velar.
5.      Langit-langit Keras
Langit-langit keras merupakan susunan bertulang. Dalam pembentukan bunyi bahasa langit-langit keras ini sebagia articulator pasif, sedangakan articulator aktifnya adalah ujung lidah atau tengah lidah.
6.      Gusi Dalam
Gusi dalam adalah bagian gusi tempat letak akargigi depan atas bagian belakang, terletak tepat di atas serta di belakang gigi yang melengkung ke dalam menghadap lidah. Bunyi yang dihasilkan oleh gusi (alveola, alveolum) disebut alveolar. Selain itu gusi juga dapat bekerja sama dengan daun lidah sebagai articulator aktifnya. Bunyi yang dihasilkan oleh daun lidah (lamina) disebut laminal.gabungan dari keduanya menjadi bunyi lamino-alveolar.
7.      Gigi
Gigi terbagi menjadi dua, yaitu gigi bawah dan atas. Bunyi yang dihasilkan oleh gigi ( denta) disebut dental. Bunyi yang dihasilkan oleh bibir (labia)  disebut labial. Bunyi yang dihasilkan oleh hanbatan gigi atas dengan bibir bawah disebut labio-dental, dan yang dihasilokan oleh hanbatan gigi atas dengan ujung lidah disebut apiko-dental. Fungsi pokok gigi untuk mengunyah.
8.      Bibir
Bibir terbagi menjadi dua yaitu bibir bawah dana atas. Dalam pembentukan bunyi bahasa bibir atas adalah sebagai articulator pasif bekerjasama dengan bibir bawah sebagi articulator aktifnya. Bibir bawah sebagai articulator aktif itu bekerjasama dengan gigi atas, hasilnya ialah labio-dental.
9.      Lidah
Fungsi pokok lidah adalah sebgai alat perasa, dan unutuk meindahkan makanan yang akan atau sedang dikunyah. Lidah dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu : akar lidah(root), pangkal lidah(dorsum), tengah lidah(medium), daun lidah (lamina), dan ujung lidah (apex).
                                                                                              
VI
KLASIFIKASI BUNYI BAHASA

1.      Vocal, Konsonan, dan Semi-vokal
Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas : vocal, konsonan, dan semi-vokal. Bunyi disebut vocal, bila terjadinya tidak ada hambatan pada alat bicara, jadi tidak ada artikulasi. Bunyi disebut konsonan bila terjadinya dibentuk dengan memnghambat arus udara pada sebagian alat bicara, jadi ada artikulasi. Bunyi semi-vokal ialah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan tetapi karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni maka bunyi-bunyi itu disebut semi-vokal atau semi-konsonan.

2.      Nasal dan Oral
Jika udara keluar atau disertai keluarnya udara melalui rongga hidung, dengan cara menurunkan langit-langit lunak beserta ujung anak tekaknya, maka bunyi disebut bunyi nasal atau sengau. Langit-langit lunak beserta ujung anak tekak menaik menutupi rongga hidung sehingga udara hanya melalui rongga mulut saja , maka bunyi yang dihasilkan disebut bunyi oral.
3.      Keras(Fortes) dan Lunak (Lenes)
Pembedaan bunyi keras atau fortis dan lunak atau lenis didasarkan pada ada tidaknya keteganggan kekuatan arus udara pada waktu bunyi itu diartikulasikan. Bunyi bahasa disebut keras bila pada waktu diartikulasikan disertai keteganggan kekuatan arus udara. Jika tidak disertai ketegangan kekuatan arus udara disebut bunyi lunak.
4.      Bunyi Panjang dan Pendek
Pembedaan bunyi panjang dan pendek didasarkan pada lamanya bunyi itu diucapkan, atau lamanya bunyi itu diartikulasikan. Tanda untuk panjang biasanya dengan tanda garis pendek diatas atau dengan titik dua disebelah kanan bunyi panjang itu.
5.      Bunyi Rangkap dan Tunggal
Bunyi rangkap adalah bunyi yang terdiri dari dua bunyi dan terdapat dalam satu suku kata. Bunyi rangkap vocal disebut diftong, sedangkan bunyi tunggal vocal disebut monoftong. Ciri diftong adalah keadaan posisi lidah dalam mengucapkan bunyi vocal yang satu dengan yang lain saling berbeda. Bunyi rangkap konsonan disebut gugus konsonan atau klaster. Ciri gugus konsonan atau klaster adalah cara diartikulasikan atau tempat artikulasi kedua konsonan itu saling berbeda.
6.      Bunyi Nyaring dan Tidak Nyaring
Pembedaan bunyi nyaring dan tidak nyaraing berdasarkan derajat kenyaringan ditinjau menurut aspek auditoris. Makin luas ruang resonansi saluran bicara yang dipakai pada waktu membentuk bunyi bahasa makin tinggi derajat kenyaringannya.
7.      Bunyi dengan Arus Udara Egresif dan Bunyi dengan Arus Ingresif
Bunyi bahasa ada yang pembentukannya menurut arus udara yang egresif dan ingresif:
a.       Egresif Pulmonik
b.      Egresif glotalik
c.       Ingresif glotalik
d.                  Ingresif velarik





VII
KLASIFIKASI VOKAL

1.      Tinggi Rendahnya Lidah
a.    Vokal tinggi, misalnya : [i, u].
b.    Vokal madya, misalnya [e, ε, ә, o, ɔ].
c.    Vocal rendah, misalnya [a, ɑ].
2.      Bagian Lidah yang Bergerak
a.    Vokal depan, yaitu vocal yang dihasilkan oleh gerakan peranan turun naiknya lidah bagian depan; misalnya: [i, e, ε, a].
b.    Vokal tengah, yaitu vocal yang dihasilkan oleh gerakan turun naiknya lidah bagian tengah; misalnya: [ә].
c.    Vokal belakang, yaitu vocal yang dihasilkan oleh gerakan turun naiknya lidah bagian belakang (pangkal lidah); misalnya: [u, o. ɔ, ɑ].
3.      Striktur
a.       Vocal tertutup, yaitu vocal yang dibentuk dengan lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit dalam batas vocal.
b.      Vocal semi-tertutup, yaitu vocal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga dibawah tertutup atau dua pertiga diatas vocal yang paling rendah.
c.       Vokal semi-terbuka, yaitu vocal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga diatas vocal yang paling rendah atau dua pertiga dibawah vocal tertutup.
d.      Vokal terbuka, yaitu vocal yang dibentuk dengan lidah dalam posisi serendah mungkin.
4.      Bentuk Bibir
a.       Vocal bulat, yaitu vocal yang diucapkan dengan bentuk bibir bulat.
b.      Vocal netral, yaitu vocal yang diucapkan dengan bentuk bibir dalam keadaan netral, tidak bulat tetapi juga tidak tebentang lebar.
c.       Vocal tak berbulat, yaitu vocal yang di ucapkan dengan bentuk bibir yang tidak bulat atau terbentang lebar.

VIII
MONOFTONG

1.      Vokal Bahasa Indonesia
2.      Vokal Bahasa Angkola
3.      Vokal Bahasa Semende
4.      Vokal Bahasa Kendayan
5.      Vokal Bahasa Jawa
6.      Vokal Bahasa Inggris


IX
DIFTONG
1.      Diftong Naik
Vocal yang kedua di ucapkan dengan posisi lidah lebih tinggi daripada yang pertama .
a.       Diftong naik bahasa Indonesia
1)      Diftong naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: pakai, lalai, pandai, nilai, tupai, sampai.
2)      Diftong naik-menutup-maju [oi], misalnya dalam: ampoi, sepoi-sepoi.
3)      Diftong naik-menutup-mundur [au], misalnya dalam: saudara, saudagar, lampau, surau, pulau, kacau.
b.      Diftong naik bahasa Semende
1)      Diftong naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: bai’hewan bibit betina’, empai ‘baru’, petai ‘patai’.
2)      Diftong naik-menutup-maju [oi], misalnya dalam: baloi ‘seri’, apoi ‘sejenis penyakit’, keloi ‘tali rami’.
3)      Diftong naik-menutup-mundur [au], misalnya dalam: pantau ‘panggil’, limau ‘jeruk’, parau ‘serak’.
4)      Diftong naik-menutup-maju [ou], misalnya dalam: sembou ‘sembur’, kapou ‘kapur’.
c.       Diftong naik bahasa Banjar Hulu
1)      Diftong naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: mamai ‘omel’, pakai ‘pakai’, kaina ‘nanti’.
2)      Diftong naik-menutup-maju [ui], misalnya dalam: kuitan ‘orang tua’, bangkui ‘orang hutan’.
3)      Diftong naik-menutup-mundur [au], misalnya dalam: sauda ‘tidak’, mamau ‘hilang’, pakau ‘ikat’.
d.      Diftong naik bahasa Madura
1)      Diftong naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: songai ‘sungai’, anggai ‘orong-orong’, barakai ‘biawak’.
2)      Diftong naik-menutup-maju [oi], misalnya dalam: soroi ‘sisir’, aloi ‘basi(makanan)’.
3)      Diftong naik-menutup-mundur [ui], misalnya dalam: kerbui ‘kerbau’, anggui ‘pakai’, galui ‘aduk’.
e.       Diftong naik bahasa Jawa
Diftong naik-menutup-maju [ui], misalnya dalam uijo ‘sangat hijau’, uireng ‘sangat hitam’, cuilik ‘sangat kecil’.
f.       Diftong naik bahasa Inggris
1)      Diftong naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: time ‘taim’, like ‘laik’, rice ‘rais’.
2)      Diftong naik-menutup-mundur [ei], misalnya dalam: day ‘dei’, late ‘leit’.
3)      Diftong naik-menutup-maju [oi], misalnya dalam: boy ‘boi’, coy ‘coi’.
4)      Diftong naik-menutup-mundur [au], misalnya dalam: how ‘hau’, now ‘nau’.
5)      Diftong naik-menutup-maju [ou], misalnya dalam: go ‘gou’, tone ‘toun’.


2.      Diftong Turun
Posisi lidah yang kedua diucapkan lebih rendah dari yang pertama.
a.       Diftong turun bahasa Semende
Diftong turun-membuka-mundur [iu], misalnya dalam: iu ‘ah’.
b.      Diftong turun bahasa Jawa
1)      Diftong turun-membuka-maju [ua],  misalnya dalam: muarem ‘sangat puas’.
2)      Diftong turun-membuka maju [uε], misalnya dalam: uelek ‘sangat jelek’.
3)      Diftong turun-membuka-mundur [uɔ], misalnya dalam: duawa ‘sangat panjang’.
4)      Diftong turun-membuka-memusat [uә], misalnya dalam: ue
c.       Diftong turun bahasa Inggris
Diftong turun-membuka-memusat [iә], misalnya dalam: ear ‘iә’ dan Diftong turun-membuka-memusat [uә], misalnya dalam: poor ‘pͪuә’
d.      Diftong Memusat

X
KLASIFIKASI KONSONAN

1.      Konsonan Hambat Letup
a.       Konsonan Hambat Letup Bilabial
b.      Konsonan Hambat Letup Apiko-Dental
c.       Konsonan Hambat Letup Apiko-Alveolar
d.      Konsonan Hambat Letup Apiko-Palatal
e.       Konsonan Hambat Letup Medio-Palatal
f.       Konsonan Hambat Letup Dorso-Velar
g.      Konsonan Hambat Letup Hamzah
2.      Konsonan Nasal
a.       Konsonan Nasal Bilabial
b.      Konsonan Nasal Apiko-Alveolar
c.       Konsonan Nasal Medio-Palatal
d.      Konsonan Nasal Dorso-Velar
3.      Konsonan Paduan
4.      Konsonan Sampingan
5.      Konsonan Geseran atau Frikatif
6.      Konsonan Getar
7.      Konsonan Sentuhan
8.      Konsonan Sentuhan Kuat
9.      Semi-vokal



XI
PENGARUH BUNYI, TRANSKRIPSI DAN TRANSLITERASI

1.      Pengaruh-mempengaruhi Bunyi
Akibat dari pengaruh-mempengaruhi bunyi disebut proses asimilasi. Sedangkan tepat artikulasi yang mana yang mempengaruhi disebut artikulasi penyerta.
a.       Proses Asimilasi
1.      Asimilasi Progresif
Terjadi bila arah pengaruh bunyi itu kedepan.
2.      Asimilasi Regresif
Terjadi bila arah pengaruh bunyi itu kebelakang.
b.      Artikulasi Penyerta
1)      Labialisasi
Pembulatan bibir pada artikulasi primer, sehingga terdengar bunyi [w] pada bunyi utama tersebut.
2)      Retrofleksi
Penarikan ujung lidah kebelakang pada artikulasi primer, sehingga terdengar bunyi [r] pada bunyi utamanya.
3)      Palatalisasi
Pengangkatan daun lidah ke arah langit-langit keras pada artikulasi primer.
4)      Velarisasi
Pengangkatan pangkal lidah ke arah langit-langit lunak pada artikulasi primer.
5)      Glotarisasi
Proses penyerta hambatan pada glotis (glotis tertutup rapat) sewaktu artikulasi primer diucapkan.
2.      Pengaruh Bunyi karena Distribusi
a.       Aspirasi
Pengucapan suatu bunyi yang disertai dengan hembusan keluarnya udara dengan kuat sehingga terdengarnya bunyi [h].
b.      Lepas atau pelepasan
Pengucapan bunyi hambatan letup yang seharusnya dihambat atau diletupkan tetapi tidak dihambat atau diletupkan, dan dengan serentak bunyi berikutnya diucapkan.
1.      Lepas Tajan
Bila pelepasan alat-alat artikulasi dari titik artikulasinya terjadi secara tajam atau penuh.
2.      Lepas nasal
Suatu pelepasan yang terjadi karena adanya bunyi nasal didepannya.
3.      Lepas sampingan
Suatu pelepasan yang terjadi karena adanya bunyi sampingan di depannya.
c.       Paduanisasi atau pengafrikatan
Adanya penghambatan bunyi letup yang seharusnya diletupkan tetapi tidak diletupkan, melainkan dilepaskan secara pelan-pelan. Proses ini menyebabkan penyempitan jalannya arus udara, sehingga udara terpaksa keluar dengan terpaksa. Jadi, artikulasinya menjadi hambat geseran bukan hambat letupan. Gabungan ini disebut Paduanisai atau afrikat.
3.      Transkripsi dan Transliterasi
a.       Transkripsi
Penulisan tuturan atau pengubahan teks dengan tujuan untuk menyarankan: lafal bunyi, fonem, morfem, atau tulisan sesuai dengan ejaan yang berlaku dalam suatu bahasa yang menjadi sasarannya.
b.      Transliterasi
Penggantian huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain, tanpa menghiraukan lafal bunyi kata yang bersangkutan.

XII
BUNYI SUPRASEGMENTAL

1.      Panjang atau Kuantitas
Panjang menyangkut lamanya bunyi yang diucapkan. Suatu bunyi segmental yang waktu diucapkan alat-alat ucap dipertahankan cukup lama, pastilaha disertai bunyi suprasegmental dengan ciri prosodi yang panjang. Sebaliknya, jika alat ucap dalam membentuk bunyi segmental itu tidak dipertahankan penyertanya ialah dengan prosodi pendek.
2.      Nada
Nada menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi. Variasi nada yang menyertai bunyi segmental dalam kalimat disebut intonasi.
3.      Tekanan (strees)
Dibedakan menjadi tekanan keras dan tekanan lunak
4.      Jeda atau Persendian
Jeda menyangkut perhentian dalam bahasa. Bunyi Suprasegmental yang berciri prosodi perhentian disana-sini itu disebut jeda atau persendian. Bahasa yang satu dengan yang lain, jedanya berbeda-beda; ada yang jedanya jelas, ada yang mungkin tidak jelas. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar