I
PENDAHULUAN
Fonetik
(phonetics) ialah ilmu yang menyelidiki bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi
itu sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa (langue) (cf. Malmberg, 1963: 1;
Verfhaar, 1977: 12; Ramelan, 1982:3). Fonetik menyelidiki bunyi bahasa dari
sudut pandang tuturan atau ujaran (parole) (Sudarjanto, 1974:1).
II
JENIS
FONETIK
Menurut
segi bunyi bahasa di selidiki, fonetik dibagi menjadi tiga jenis (cf. Bloch
& George L. Trager, 1942: 11; Verhaar, 1977:12; Sommerstein, 1977:1)
seperti dibawah ini:
1. Fonetik
Organis
Fonetik yang mempelajari bagaimana mekanisme
alat-alat bicara yang ada dalam tubuh manusia menghasilkan bunyi bahasa.
2. Fonetik
Akustik
Fonetik yang mempelajari bunyi bahasa dari segi
bunyi sebagaimana gejala fisis.
3. Fonetik
Auditoris
Fonetik
yang mempelajari bagaimana mekanisme telinga menerima bunyi bahasa sebagai
getaran udara.
III
TERJADINYA
BUNYI
Udara
dihisap ke dalam paru-paru dan dihembuskan keluar bersama-sama waktu sedang
bernafas. Udara yang dihembuskan (atau dihisap untuk sebagian kecil bunyi
bahasa) itu kemudian mendapatkan hambatan diberbagai tempat alat bicara dengan
berbagai cara, sehingga terjadilah bunyi-bunyi bahasa.
IV
ALAT-ALAT
BICARA
1. Paru-paru (lungs);
2. Batang Tenggorok (trachea); 3. Pangkal tenggorok (larynx); 4. Pita-pita
suara (vocal cords); 5. Krikoid (cricoids); 6. Tiroid (thyroid); 7. Aritenoid
(arythenoids); 8. Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx); 9. Epiglotis
(epiglottis); 10. Akar lidah (root of the tongue); 11. Punggung lidah, lidah
belakang, panggal lidah (hump, back of tongue, dorsum); 12. Tengah lidah
(middle of tongue,medium); 13. Daun lidah (blade of the tongue,lamina); 14.
Ujung lidah (tip of the tongue,apex); 15. Anak tekak (uvulc); 16. Langit-langit
lunak (soft palate,velum); 17. Langit-langit keras (hard palate, palatum); 18.
Gusi dalam, gusi belakang, ceruk gigi, lengkung kaki gigi, (alveola, alveolum);
19. Gigi atas (upper teeth,denta)
; 20. Gigi bawah (lower teeth, denta); 21. Bibir atas (upper lip,labia); 22. Bibir bawah (lower lip, labia); 23. Mulut (mouth); 24. Rongga mulut (oral cavity, mouth cavity); 25. Rongga hidung (nose cavity, nasal cavity).
; 20. Gigi bawah (lower teeth, denta); 21. Bibir atas (upper lip,labia); 22. Bibir bawah (lower lip, labia); 23. Mulut (mouth); 24. Rongga mulut (oral cavity, mouth cavity); 25. Rongga hidung (nose cavity, nasal cavity).
V
FUNGSI
DAN CARA KERJA ALAT BICARA
1. Paru-paru
Fungsi
pokok paru-paru adalah untuk pernafasan. Bernafas pada dasarnya ialah
mengalirkan udara ke dalam paru-paru, proses ini disebut menarik nafas; dan
mengeluarkan udara yang telah kotor keluar, proses ini disebut menghembuskan
napas.
Selama manusia masih hidup, proses mengembang
(pembesaran ruangan paru-paru) dan mengempis (pengecilan ruangan paru-paru)-nya
paru-paru yang dikerjakan oleh otot-otot paru-paru, otot perut, dan rongga dada
berjalan terus secara teratur. Arus udara yang dari paru-paru inilah yang
menjadi sumber syarat mutlak terjadinya bunyi.
2. Pangkal
Tenggorok
Pangkal
tenggorok atau larink adalah rongga pada ujung pernapasan. Rongga ini terdiri
dari empat komponen yaitu : tulang rawan krikoid, dua tulang rawan aritenoid,
sepasang pita suara, dan tulang rawan tiroid.
Sehubungan
dengan terjadinya bunyi dan pernafasan maka glotis biasa dibedakan atas empat
posisi yaitu dalam keadaan : terbuka lebar, terbuka, tertutup, dan tertutup
rapat. Glotis terbuka lebar saat kita bernafas secara normal. Glotis dalam
keadaan terbuka dalam menghasilkan bunyi tak bersuara; sedang dalam keadaan
tertutup, sehingga memungkinkan arus udara yang mengalir menggetarkan pita
suara, pada waktu menghasilkan bunyi bersuara. Proses menggetarnya pita suara
itu sendiri disebut fonasi (phonation) .
3. Rongga
Kerongkongan
Rongga
kerongkongan atau faring adalah rongga yang terletak diantara pangkal tenggorok
dengan rongga mulut dan rongga hidung. Fungsi utamanya, sebagai saluran makanan
dan minuman.
4. Langit-langit
Lunak
Langit-langit
lunak (velum) beserta bagian ujungnya
yang disebut anak tekak (uvula) dapat
turun naik sedemikian rupa. Bunyi bahasa yang di hasilkan oleh langit-langit
lunak ini disebut bunyi velar. Dalam pembentukan bunyi ia sebagai artikular
pasif (dasar atau basis artikulasi), sedangkan artikulator (aktif)-nya adalah
pangkal lidah. Gabungan keduannya menjadi dorso-velar.
5. Langit-langit
Keras
Langit-langit
keras merupakan susunan bertulang. Dalam pembentukan bunyi bahasa langit-langit
keras ini sebagia articulator pasif, sedangakan articulator aktifnya adalah
ujung lidah atau tengah lidah.
6. Gusi
Dalam
Gusi
dalam adalah bagian gusi tempat letak akargigi depan atas bagian belakang,
terletak tepat di atas serta di belakang gigi yang melengkung ke dalam
menghadap lidah. Bunyi yang dihasilkan oleh gusi (alveola, alveolum) disebut
alveolar. Selain itu gusi juga dapat bekerja sama dengan daun lidah sebagai
articulator aktifnya. Bunyi yang dihasilkan oleh daun lidah (lamina) disebut
laminal.gabungan dari keduanya menjadi bunyi lamino-alveolar.
7. Gigi
Gigi
terbagi menjadi dua, yaitu gigi bawah dan atas. Bunyi yang dihasilkan oleh gigi
( denta) disebut dental. Bunyi yang
dihasilkan oleh bibir (labia) disebut labial. Bunyi yang dihasilkan oleh
hanbatan gigi atas dengan bibir bawah disebut labio-dental, dan yang
dihasilokan oleh hanbatan gigi atas dengan ujung lidah disebut apiko-dental.
Fungsi pokok gigi untuk mengunyah.
8. Bibir
Bibir
terbagi menjadi dua yaitu bibir bawah dana atas. Dalam pembentukan bunyi bahasa
bibir atas adalah sebagai articulator pasif bekerjasama dengan bibir bawah
sebagi articulator aktifnya. Bibir bawah sebagai articulator aktif itu
bekerjasama dengan gigi atas, hasilnya ialah labio-dental.
9. Lidah
Fungsi
pokok lidah adalah sebgai alat perasa, dan unutuk meindahkan makanan yang akan
atau sedang dikunyah. Lidah dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu : akar
lidah(root), pangkal lidah(dorsum), tengah lidah(medium), daun lidah (lamina), dan ujung lidah (apex).
VI
KLASIFIKASI
BUNYI BAHASA
1. Vocal,
Konsonan, dan Semi-vokal
Secara
umum bunyi bahasa dibedakan atas : vocal, konsonan, dan semi-vokal. Bunyi
disebut vocal, bila terjadinya tidak ada hambatan pada alat bicara, jadi tidak
ada artikulasi. Bunyi disebut konsonan bila terjadinya dibentuk dengan
memnghambat arus udara pada sebagian alat bicara, jadi ada artikulasi. Bunyi
semi-vokal ialah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan tetapi karena pada
waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni maka bunyi-bunyi itu
disebut semi-vokal atau semi-konsonan.
2. Nasal
dan Oral
Jika
udara keluar atau disertai keluarnya udara melalui rongga hidung, dengan cara
menurunkan langit-langit lunak beserta ujung anak tekaknya, maka bunyi disebut
bunyi nasal atau sengau. Langit-langit lunak beserta ujung anak tekak menaik
menutupi rongga hidung sehingga udara hanya melalui rongga mulut saja , maka
bunyi yang dihasilkan disebut bunyi oral.
3. Keras(Fortes)
dan Lunak (Lenes)
Pembedaan
bunyi keras atau fortis dan lunak atau lenis didasarkan pada ada tidaknya keteganggan
kekuatan arus udara pada waktu bunyi itu diartikulasikan. Bunyi bahasa disebut
keras bila pada waktu diartikulasikan disertai keteganggan kekuatan arus udara.
Jika tidak disertai ketegangan kekuatan arus udara disebut bunyi lunak.
4. Bunyi
Panjang dan Pendek
Pembedaan
bunyi panjang dan pendek didasarkan pada lamanya bunyi itu diucapkan, atau
lamanya bunyi itu diartikulasikan. Tanda untuk panjang biasanya dengan tanda
garis pendek diatas atau dengan titik dua disebelah kanan bunyi panjang itu.
5. Bunyi
Rangkap dan Tunggal
Bunyi
rangkap adalah bunyi yang terdiri dari dua bunyi dan terdapat dalam satu suku
kata. Bunyi rangkap vocal disebut diftong, sedangkan bunyi tunggal vocal
disebut monoftong. Ciri diftong adalah keadaan posisi lidah dalam mengucapkan
bunyi vocal yang satu dengan yang lain saling berbeda. Bunyi rangkap konsonan
disebut gugus konsonan atau klaster. Ciri gugus konsonan atau klaster adalah
cara diartikulasikan atau tempat artikulasi kedua konsonan itu saling berbeda.
6. Bunyi
Nyaring dan Tidak Nyaring
Pembedaan
bunyi nyaring dan tidak nyaraing berdasarkan derajat kenyaringan ditinjau
menurut aspek auditoris. Makin luas ruang resonansi saluran bicara yang dipakai
pada waktu membentuk bunyi bahasa makin tinggi derajat kenyaringannya.
7. Bunyi
dengan Arus Udara Egresif dan Bunyi dengan Arus Ingresif
Bunyi bahasa ada yang
pembentukannya menurut arus udara yang egresif dan ingresif:
a. Egresif
Pulmonik
b. Egresif
glotalik
c. Ingresif
glotalik
d.
Ingresif velarik
VII
KLASIFIKASI
VOKAL
1. Tinggi
Rendahnya Lidah
a. Vokal
tinggi, misalnya : [i, u].
b. Vokal
madya, misalnya [e, ε, ә, o, ɔ].
c. Vocal
rendah, misalnya [a, ɑ].
2. Bagian
Lidah yang Bergerak
a. Vokal
depan, yaitu vocal yang dihasilkan oleh gerakan peranan turun naiknya lidah
bagian depan; misalnya: [i, e, ε, a].
b. Vokal
tengah, yaitu vocal yang dihasilkan oleh gerakan turun naiknya lidah bagian
tengah; misalnya: [ә].
c. Vokal
belakang, yaitu vocal yang dihasilkan oleh gerakan turun naiknya lidah bagian
belakang (pangkal lidah); misalnya: [u, o. ɔ, ɑ].
3. Striktur
a. Vocal
tertutup, yaitu vocal yang dibentuk dengan lidah diangkat setinggi mungkin
mendekati langit-langit dalam batas vocal.
b. Vocal
semi-tertutup, yaitu vocal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian
sepertiga dibawah tertutup atau dua pertiga diatas vocal yang paling rendah.
c. Vokal
semi-terbuka, yaitu vocal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian
sepertiga diatas vocal yang paling rendah atau dua pertiga dibawah vocal
tertutup.
d. Vokal
terbuka, yaitu vocal yang dibentuk dengan lidah dalam posisi serendah mungkin.
4. Bentuk
Bibir
a. Vocal
bulat, yaitu vocal yang diucapkan dengan bentuk bibir bulat.
b. Vocal
netral, yaitu vocal yang diucapkan dengan bentuk bibir dalam keadaan netral,
tidak bulat tetapi juga tidak tebentang lebar.
c. Vocal
tak berbulat, yaitu vocal yang di ucapkan dengan bentuk bibir yang tidak bulat
atau terbentang lebar.
VIII
MONOFTONG
1. Vokal
Bahasa Indonesia
2. Vokal
Bahasa Angkola
3. Vokal
Bahasa Semende
4. Vokal
Bahasa Kendayan
5. Vokal
Bahasa Jawa
6. Vokal
Bahasa Inggris
IX
DIFTONG
1.
Diftong Naik
Vocal
yang kedua di ucapkan dengan posisi lidah lebih tinggi daripada yang pertama .
a. Diftong
naik bahasa Indonesia
1) Diftong
naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: pakai,
lalai, pandai, nilai, tupai, sampai.
2) Diftong
naik-menutup-maju [oi], misalnya dalam: ampoi,
sepoi-sepoi.
3) Diftong
naik-menutup-mundur [au], misalnya dalam: saudara,
saudagar, lampau, surau, pulau, kacau.
b. Diftong
naik bahasa Semende
1) Diftong
naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: bai’hewan
bibit betina’, empai ‘baru’, petai ‘patai’.
2) Diftong
naik-menutup-maju [oi], misalnya dalam: baloi
‘seri’, apoi ‘sejenis penyakit’,
keloi ‘tali rami’.
3) Diftong
naik-menutup-mundur [au], misalnya dalam: pantau ‘panggil’, limau ‘jeruk’,
parau ‘serak’.
4) Diftong
naik-menutup-maju [ou], misalnya dalam: sembou
‘sembur’, kapou ‘kapur’.
c. Diftong
naik bahasa Banjar Hulu
1) Diftong
naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: mamai
‘omel’, pakai ‘pakai’, kaina ‘nanti’.
2) Diftong
naik-menutup-maju [ui], misalnya dalam: kuitan
‘orang tua’, bangkui ‘orang hutan’.
3) Diftong
naik-menutup-mundur [au], misalnya dalam: sauda
‘tidak’, mamau ‘hilang’, pakau ‘ikat’.
d. Diftong
naik bahasa Madura
1) Diftong
naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: songai
‘sungai’, anggai ‘orong-orong’, barakai ‘biawak’.
2) Diftong
naik-menutup-maju [oi], misalnya dalam: soroi
‘sisir’, aloi ‘basi(makanan)’.
3) Diftong
naik-menutup-mundur [ui], misalnya dalam: kerbui ‘kerbau’, anggui ‘pakai’,
galui ‘aduk’.
e. Diftong
naik bahasa Jawa
Diftong
naik-menutup-maju [ui], misalnya dalam uijo
‘sangat hijau’, uireng ‘sangat hitam’,
cuilik ‘sangat kecil’.
f. Diftong
naik bahasa Inggris
1) Diftong
naik-menutup-maju [ai], misalnya dalam: time ‘taim’, like ‘laik’, rice
‘rais’.
2) Diftong
naik-menutup-mundur [ei], misalnya dalam: day ‘dei’, late ‘leit’.
3) Diftong
naik-menutup-maju [oi], misalnya dalam: boy ‘boi’, coy ‘coi’.
4) Diftong
naik-menutup-mundur [au], misalnya dalam: how ‘hau’, now ‘nau’.
5) Diftong
naik-menutup-maju [ou], misalnya dalam: go ‘gou’, tone ‘toun’.
2.
Diftong Turun
Posisi lidah yang kedua
diucapkan lebih rendah dari yang pertama.
a. Diftong
turun bahasa Semende
Diftong
turun-membuka-mundur [iu], misalnya dalam: iu
‘ah’.
b. Diftong
turun bahasa Jawa
1) Diftong
turun-membuka-maju [ua], misalnya dalam:
muarem ‘sangat puas’.
2) Diftong
turun-membuka maju [uε], misalnya dalam: uelek
‘sangat jelek’.
3) Diftong
turun-membuka-mundur [uɔ], misalnya dalam: duawa
‘sangat panjang’.
4) Diftong
turun-membuka-memusat [uә], misalnya dalam: ue
c. Diftong
turun bahasa Inggris
Diftong turun-membuka-memusat [iә], misalnya dalam: ear
‘iә’ dan Diftong
turun-membuka-memusat [uә], misalnya dalam: poor ‘pͪuә’
d. Diftong
Memusat
X
KLASIFIKASI
KONSONAN
1. Konsonan
Hambat Letup
a. Konsonan
Hambat Letup Bilabial
b. Konsonan
Hambat Letup Apiko-Dental
c. Konsonan
Hambat Letup Apiko-Alveolar
d. Konsonan
Hambat Letup Apiko-Palatal
e. Konsonan
Hambat Letup Medio-Palatal
f. Konsonan
Hambat Letup Dorso-Velar
g. Konsonan
Hambat Letup Hamzah
2. Konsonan
Nasal
a. Konsonan
Nasal Bilabial
b. Konsonan
Nasal Apiko-Alveolar
c. Konsonan
Nasal Medio-Palatal
d. Konsonan
Nasal Dorso-Velar
3. Konsonan
Paduan
4. Konsonan
Sampingan
5. Konsonan
Geseran atau Frikatif
6. Konsonan
Getar
7. Konsonan
Sentuhan
8. Konsonan
Sentuhan Kuat
9. Semi-vokal
XI
PENGARUH
BUNYI, TRANSKRIPSI DAN TRANSLITERASI
1. Pengaruh-mempengaruhi
Bunyi
Akibat dari
pengaruh-mempengaruhi bunyi disebut proses asimilasi. Sedangkan tepat
artikulasi yang mana yang mempengaruhi disebut artikulasi penyerta.
a. Proses
Asimilasi
1. Asimilasi
Progresif
Terjadi bila arah
pengaruh bunyi itu kedepan.
2. Asimilasi
Regresif
Terjadi bila arah
pengaruh bunyi itu kebelakang.
b. Artikulasi
Penyerta
1) Labialisasi
Pembulatan bibir pada artikulasi primer, sehingga
terdengar bunyi [w] pada bunyi utama tersebut.
2) Retrofleksi
Penarikan ujung lidah kebelakang pada artikulasi
primer, sehingga terdengar bunyi [r] pada bunyi utamanya.
3) Palatalisasi
Pengangkatan daun lidah
ke arah langit-langit keras pada artikulasi primer.
4) Velarisasi
Pengangkatan pangkal
lidah ke arah langit-langit lunak pada artikulasi primer.
5) Glotarisasi
Proses penyerta hambatan pada glotis (glotis
tertutup rapat) sewaktu artikulasi primer diucapkan.
2. Pengaruh
Bunyi karena Distribusi
a. Aspirasi
Pengucapan suatu bunyi yang disertai dengan hembusan
keluarnya udara dengan kuat sehingga terdengarnya bunyi [h].
b. Lepas
atau pelepasan
Pengucapan bunyi hambatan letup yang seharusnya
dihambat atau diletupkan tetapi tidak dihambat atau diletupkan, dan dengan
serentak bunyi berikutnya diucapkan.
1. Lepas
Tajan
Bila pelepasan alat-alat artikulasi dari titik
artikulasinya terjadi secara tajam atau penuh.
2. Lepas
nasal
Suatu pelepasan yang
terjadi karena adanya bunyi nasal didepannya.
3. Lepas
sampingan
Suatu pelepasan yang
terjadi karena adanya bunyi sampingan di depannya.
c. Paduanisasi
atau pengafrikatan
Adanya penghambatan
bunyi letup yang seharusnya diletupkan tetapi tidak diletupkan, melainkan
dilepaskan secara pelan-pelan. Proses ini menyebabkan penyempitan jalannya arus
udara, sehingga udara terpaksa keluar dengan terpaksa. Jadi, artikulasinya
menjadi hambat geseran bukan hambat letupan. Gabungan ini disebut Paduanisai
atau afrikat.
3. Transkripsi
dan Transliterasi
a. Transkripsi
Penulisan tuturan atau pengubahan teks dengan tujuan
untuk menyarankan: lafal bunyi, fonem, morfem, atau tulisan sesuai dengan ejaan
yang berlaku dalam suatu bahasa yang menjadi sasarannya.
b. Transliterasi
Penggantian huruf demi huruf dari abjad yang satu ke
abjad yang lain, tanpa menghiraukan lafal bunyi kata yang bersangkutan.
XII
BUNYI
SUPRASEGMENTAL
1. Panjang
atau Kuantitas
Panjang menyangkut
lamanya bunyi yang diucapkan. Suatu bunyi segmental yang waktu diucapkan
alat-alat ucap dipertahankan cukup lama, pastilaha disertai bunyi
suprasegmental dengan ciri prosodi yang panjang. Sebaliknya, jika alat ucap
dalam membentuk bunyi segmental itu tidak dipertahankan penyertanya ialah
dengan prosodi pendek.
2. Nada
Nada menyangkut tinggi
rendahnya suatu bunyi. Variasi nada yang menyertai bunyi segmental dalam
kalimat disebut intonasi.
3. Tekanan
(strees)
Dibedakan menjadi
tekanan keras dan tekanan lunak
4. Jeda
atau Persendian
Jeda menyangkut
perhentian dalam bahasa. Bunyi Suprasegmental yang berciri prosodi perhentian
disana-sini itu disebut jeda atau persendian. Bahasa yang satu dengan yang
lain, jedanya berbeda-beda; ada yang jedanya jelas, ada yang mungkin tidak
jelas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar