Berawal dari barisan tumpahan kalbu
awan hatiku tak kuasa
menahan
rintik hadir dalam untaian
rerfikir akan beribu kemungkinan
mana tahu kapan dan bagaimana
kau juga aku hanya datang perkiraan
Sumbangan pengetuk pintu
berharap alunan itulah aku
terdengar manis namun pahit
tentu karena tiada berlagu
ingin nada tersaji untukku
disediakan pula untuk semua hawa
Kala cerita memulai gongnya
bergetar takut menatap
apakah aku termasuk dalam lingkaran itu
atau hanya berdiri menatap
dari sudut pandang ketiga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar