Rabu, 03 April 2013

Tiada Berlagu




Berawal dari barisan tumpahan kalbu
awan hatiku  tak kuasa menahan
rintik hadir dalam untaian
rerfikir akan beribu kemungkinan
mana tahu kapan dan bagaimana
kau juga aku hanya datang perkiraan

Sumbangan pengetuk pintu
berharap alunan itulah aku
terdengar manis namun pahit
tentu karena tiada berlagu
ingin nada tersaji untukku
disediakan pula untuk semua hawa

Kala cerita memulai gongnya
bergetar  takut menatap
apakah aku termasuk dalam lingkaran itu
atau hanya berdiri menatap
dari sudut pandang ketiga






Tidak ada komentar:

Posting Komentar